Kamis, 24 Mei 2012

ISTILAH-ISTILAH DALAM TASAWUF


A.Al Maqamat
1.Pengertian
Definisi Al maqamat secara etimologis adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang berarti kedudukan spiritual (English : Station). Maqam arti dasarnya adalah tempat berdiri, dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya.
Menurut Al Qusyairi (w. 465 H) maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam rangka wushul (sampai) kepadaNya dengan berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Dalam pandangan Abu Nashr Al Sarraj (w. 378 H) yaitu kedudukan atau tingkatan seorang hamba dihadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian pengabdian (‘ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati (mujahadah), latihan-latihan spiritual (riyadhah) dan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah.
Dengan arti kata lain, maqam didefinisikan sebagai suatu tahap adab (etika) kepadaNya dengan bermacam usaha diwujudkan untuk satu tujuan pencarian dan ukuran tugas masing-masing yang berada dalam tahapnya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadah (exercise) menuju kepadanya. Seorang sufi tidak dibenarkan berpindah ke suatu maqam lain, kecuali setelah menyelesaikan syarat-syarat yang ada dalam maqam tersebut. Tahap-tahap atau tingkat-tingkat maqam ini bukannya berbentuk yang sama di antara ahli-ahli sufi, namun mereka bersependapat bahawa tahap permulaan bagi setiap maqam ialah taubah.
Bentuk maqamat adalah pengalaman-pengalaman yang dirasakan dan diperoleh seorang sufi melalui usaha-usaha tertentu; jalan panjang berisi tingkatan-tingkatan yang harus ditempuh oleh seorang sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Tasawuf memang bertujuan agar manusia (sufi) memperoleh hubungan langsung dengan Allah sehingga ia menyadari benar bahwa dirinya berada sedekat-dekatnya dengan Allah. Namun, seorang sufi tidak dapat begitu saja dekat dengan Allah. Ia harus menempuh jalan panjang yang berisi tingkatan-tingkatan (stages atau stations). Jumlah maqam yang harus dilalui oleh seorang sufi ternyata bersifat relatif. Artinya, antara satu sufi dengan yang lain mempunyai jumlah maqam yang berbeda. Ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat maqamat itu terkait erat dengan pengalaman sufi itu sendiri.
2.Tingkatan Al Maqamat
Ibn Qayyim Al Jauziyah (w. 750 H) berpendapat bahwa maqamat terbagi kepada tiga tahapan. Yang pertama adalah kesadaran (dzauq), kedua adalah tafkir (berpikir) dan yang ketiga adalah musyahadah. Sedangkan menurut Al Sarraj, maqamat terdiri dari tujuh tingkatan yaitu taubat, wara’, zuhd, faqr, shabr, tawakkal dan ridha. Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat, sabar, faqir, zuhud, tawakal, mahabah, ma’rifat dan ridha.
a.Taubah
Dalam beberapa literatur ahli sufi ditemukan bahwa maqam pertama yang harus ditempuh oleh salik adalah taubat dan mayoritas ahli sufi sepakat dengan hal ini. Beberapa diantara mereka memandang bahwa taubat merupakan awal semua maqamat yang kedudukannya laksana pondasi sebuah bangunan. Tanpa pondasi bangunan tidak dapat berdiri dan tanpa taubat seseorang tidak akan dapat menyucikan jiwanya dan tidak akan dapat dekat dengan Allah. Dalam ajaran tasawuf konsep taubat dikembangkan dan memiliki berbagai macam pengertian. Secara literal taubat berarti kembali. Dalam perspektif tasawuf, taubat berarti kembali dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang, berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan kembali kepada Allah.
Menurut para sufi dosa merupakan pemisah antara seorang hamba dan Allah karena dosa adalah sesuatu yang kotor, sedangkan Allah Maha Suci dan menyukai orang suci. Karena itu, jika seseorang ingin berada sedekat mungkin dengan Allah ia hrus membersihkan diri dari segala macam dosa dengan jalan tobat. Tobat ini merupakan tobat yang sebenarnya, yang tidak melakukan dosa lagi. Bahkan labih jauh lagi kaum sufi memahami tobat dengan lupa pada segala hal kecuali Allah. Tobat tidak dapat dilakukan hanya sekali, tetapi harus berkali-kali.
Menurut Abu Nashr Al Sarraj taubah terbagi pada beberapa bagian. Pertama, taubatnya orang-orang yang berkehendak (muridin), muta’arridhin, thalibin dan qashidin. Kedua, taubatnya ahli haqiqat (kaum khawwas). Pada bagian ini para ahli haqiqat tidak ingat lagi akan dosa-dosa mereka karena keagungan Allah telah memenuhi hati mereka dan mereka senantiasa berzikir kepadaNya. Ketiga, taubat ahli ma’rifat (khusus al-khusus). Adapun taubatnya ahli ma’rifat yaitu berpaling dari segala sesuatu selain Allah.
Cara taubat sebagaimana pandangan Ibn Atha’illah adalah dengan bertafakkur dan berkhalwat. sedang tafakkur itu sendiri adalah hendaknya seorang salik melakukan instropeksi terhadap semua perbuatannya di siang hari. Dan beberapa hal yang dapat membangkitkan maqam taubat ini adalah berbaik sangka (husn adz-dzon) kepada-Nya. Jika seorang salik terjerumus dalam sebuah perbuatan dosa, hendaknya ia tidak menganggap bahwa dosanya itu sangatlah besar sehingga menyebabkan dirinya merasa putus asa untuk bisa sampai kepada-Nya.
artinya:
“ dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf : 53)
artinya:
“ Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah …” (QS. At Tahrim: 8).
Untuk lebih jelasnya berikut diketengahkan contoh taubat
Seorang wanita Ghamidi datang dan berkata, “Ya Rasulullah, saya telah berzina, maka sucikanlah aku.” Nabi menyuruhnya kembali. Hari berikutnya dia datang lagi dan berkata, “Mengapa engkau menyuruhku pergi? Mungkin engkau menyuruhku pergi sebagaimana engkau menyuruh Ma’iz pergi, tetapi demi Allah saya hamil.” Beliau menjawab, “Tidak. Pulanglah sampai engkau melahirkan anakmu.” Setelah melahirkan, dia datang membawa bayi yang terbungkus kain dan berkata, “Saya telah melahirkan seorang bayi.” Nabi berkata, “Kembalilah, susuilah ia sampai engkau menyapihnya.” Setelah wanita itu menyapihnya, dia datang lagi membawa sang anak yang memegang sepotong roti di tangannya, dan berkata, “Ya Rasulullah, inilah dia (anakku), saya telah menyapihnya dan kini dia dapat memakan makanan lain.” Anak itu diberikan kepada salah seorang Muslim untuk dirawat, dan Nabi memerintahkan sebuah lubang sedalam dada digali untuk wanita tersebut, dan dia dirajam. Khalid bin Walid mengambil sebuah batu dan melempar wanita itu dikepalanya. Darah mengalir ke wajahnya dan dia (Khalid) mencelanya. Nabi mendengar apa yang dikatakan Khalid dan berkata kepadanya, “Biarkanlah, wahai Khalid! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dia telah bertaubat dengan taubat yang jika seorang pemungut pajak melakukannya, ia akan diampuni.” Kemudian beliau memerintahkan agar dilakukan shalat jenazah bagi wanita itu, dan dia dikuburkan. (HR Muslim)
b.Wara’
Kata wara’ secara etimologi berarti menghindari atau menjauhkan diri. Dalam perspektif tasawuf bermakna menahan diri hal-hal yang sia-sia, yang haram dan hal-hal yang meragukan (syubhat). Hal ini sejalan dengan hadits nabi, “Diantara (tanda) kebaikan ke-Islaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak penting baginya”.
Adapun 2 perkara yang wajib ditinggalkan dalam wara’ adalah :
1)Meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah dan terkait dengan hati (kesesatan, bid’ah, kefanatikan dan berlebih-lebihan)
2)Meninggalkan segala sesuatu yang terkait dengan syubhat, yang dikhawatirkan akan jatuh pada keharaman, dan meninggalkan kelebihan meskupun berupa bagian dari kehalalan.
Perilaku wara' ada tiga tingkatan:
1)Menjauhkan diri (wara') dari sesuatu yang syubhat
Dimana hukumnya masih belum jelas antara yang benar-benar halal dengan yang benar-benar haram. Ia juga berusaha menjauhkan diri dari sesuatu yang tak bisa diharamkan atau dihalalkan secara mutlak. Untuk menyikapi di antara dua hal ini, maka ia mengambil langkah untuk menjaga diri (wara') dari keduanya. Ini sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Ibnu Sirin, ''Tak ada sesuatu yang lebih ringan bagiku daripada wara'. Sebab tatkala ada sesuatu yang meragukan, maka aku tinggalkan.''
2)Menjauhkan diri dari sesuatu yang menjadi keraguan hatinya dan ganjalan di dadanya ketika mengonsumsi atau mendapatkannya.
Ini tentu tak bisa diketahui kecuali oleh mereka yang hatinya bersih dan orang-orang yang sanggup mengaktualisasikan kebenaran secara hakiki. Sabda Rasulullah saw.: ''Dosa adalah apa yang membekas (dan menjadi ganjalan) di dadamu.'' (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Tirmidzi dari Nuwas bin Sam'an).

3)Sanggup menghayati dengan hati nuraninya (arif).
Mereka menjaga diri meskipun dari yang halal, jika itu akan menyibukkan hati dan membuatnya lalai dari mengingat Allah. Ini sebagaimana yang dikatakan Abu Sulaiman Ad Darani, ''Segala sesuatu yang menjadikanmu lalai dengan Allah, maka itu merupakan bencana bagimu.'' Sebagaimana jawaban Sahl bin Abdullah saat ditanya tentang halal yang murni, ''Sesuatu yang halal adalah sesuatu yang tidak untuk bermaksiat kepada Allah. Sedangkan halal yang murni adalah sesuatu yang di dalamnya Allah tidak dilupakan.''
Untuk lebih jelasnya berikut diketengahkan contoh wara’
Hasan bin Ali menceritakan kepada Abul Haura’ bahwa ketika masih kecil ia pernah mengambil sebutir kurma dari kurma sedekah lalu memakannya. Melihat hal tersebut kakek beliau yakni Rasulullah segera mengeluarkan kurma itu dari mulut Hasan dan membuangnya. Lalu seseorang berta kepada Rasulullah: “Apa masalah wahai Rasulullah bila anak kecil ini memakan kurma tersebut?” Rasulullah menjawab: “Sesungguh kami keluarga Muhammad tidaklah halal memakan harta sedekah.” (HR. Ahmad)
Dari ‘Aisyah mengabarkan bahwa Abu Bakar, pernah mencicipi makanan yang diberikan oleh budaknya. mk budak tadi berkata kepadanya: “Apakah engkau tahu dari mana aku dapatkan makanan ini?” Abu Bakar bertanya: “Dari mana engkau mendapatkannya?” Budak menjawab: “Dulu di masa jahiliyah aku pernah meramal untuk seseorang sebenarnya aku tidak pandai meramal namun aku cuma menipunya. Lalu orang itu menemuiku dan memberiku upah atas ramalanku. Inilah hasil apa yg engkau makan sekarang.” Mendengar hal tersebut Abu Bakar segera memasukkan tangan ke dalam mulut utk memuntahkan makanan yang terlanjur masuk ke dalam kerongkongan kemudian ia memuntahkan semua makanan itu.
c.Zuhud
Menurut Imam Ghazali, makna kata zuhud adalah mengurangi keinginan kepada dunia dan menjauh darinya dengan penuh kesadaran. Menurut Abu Bakr Muhammad Al Warraq (w. 290/903 M ) kata zuhud mengandung tiga hal yang mesti ditinggalkan yaitu huruf z berarti zinah (perhiasan atau kehormatan), huruf h berarti hawa (keinginan), dan d menunjuk kepada dunya (materi). Dalam perspektif tasawuf, zuhud diartikan dengan kebencian hati terhadap hal ihwal keduniaan padahal terdapat kesempatan untuk meraihnya hanya karena semata-mata taat dan mengharapkan ridha Allah SWT. Inti dari zuhd adalah keteguhan jiwa, yaitu tidak merasa bahagia dengan kenikmatan dunia yang didapat, dan tidak bersedih dan putus asa atas kenikmatan dunia yang tidak didapat.
Dalam pandangan Ibn ‘Atha’illah, zuhd ada 2 macam; Zuhd Zahir/Jali seperti zuhd dari perbuatan berlebih-lebihan dalam perkara halal, seperti: makanan, pakaian, dan hal lain yang tergolong dalam perhiasan duniawi. Dan Zuhd Batin/Khafi seperti zuhd dari segala bentuk kepemimpinan, cinta penampilan zahir, dan juga berbagai hal maknawi yang terkait dengan keduniaan.
Hal yang dapat membangkitkan maqam zuhd adalah dengan merenung (ta’ammul). Jika seorang benar-benar merenungkan dunia ini, maka dia akan mendapati dunia hanya sebagai tempat bagi yang selain Allah, dia akan mendapatinya hanya berisikan kesedihan dan kekeruhan. Jikalau sudah demikian, maka manusia akan zuhd terhadap dunia. Dia tidak akan terbuai dengan segala bentuk keindahan dunia yang menipu.
Menurut Syaikh Syihabuddin ada tiga jenis kezuhudan yaitu : pertama, Kezuhudan orang-orang awam dalam peringkat pertama. Kedua, kezuhudan orang-orang khusus (kezuhudan dalam kezuhudan). Hal ini berarti berubahnya kegembiraan yang merupakan hasil daripada zuhud hanyalah kegembiraan akhirat, sehingga nafsunya benar-benar hanya dipenuhi dengan akhirat. Ketiga, Kezuhudan orang-orang khusus dikalangan kaum khusus. Dalam peringkat ketiga ini adalah kezuhudan bersama Allah. Hal ini hanyalah dikhususkan bagi para Nabi dan manusia suci. Mereka telah merasa fana’ sehingga kehendaknya adalah kehendak Allah. Sedangkan menurut Abu Nashr Al Sarraj ada tiga kelompok zuhud :
1)Kelompok pemula (mubtadiin), mereka adalah orang-orang yang kosong tangannya dari harta milik, dan juga kosong kalbunya.
2)Kelompok para ahli hakikat tentang zuhud (mutahaqqiqun fi Al zuhd). Kelompok ini dinyatakan sebagai orang-orang yang meninggalkan kesenangan-kesenangan jiwa dari apa-apa yang ada di dunia ini, baik itu berupa pujian dan penghormatan dari manusia.
3)Kelompok yang mengetahui dan meyakini bahwa apapun yang ada di dunia ini adalah halal bagi mereka, namun yakin bahwa harta milik tidak membuat mereka jauh dari Allah dan tidak mengurangi sedikitpun kedudukan mereka, semuanya semata-mata karena Allah.
artinya:
”… Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa…” (QS. An Nisa : 77)
artinya:
“ …dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”. (QS. Al Hasyr : 9)
Untuk lebih jelasnya berikut diketengahkan contoh wara’
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda “Melakukan zuhud dalam kehidupan dunia bukanlah dgn mengharamkan yg halal dan bukan pula dgn memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tak menganggap apa yg ada pada dirimu lbh pasti daripada apa yg ada pada Allah. Dan hendak engkau bergembira memperoleh pahala musibah yg sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu.”
Ada dan tiada dunia di sisi kita hendak jangan sampai menggoyahkan batin. Karena mulailah melihat dunia ini dgn sangat biasa-biasa saja. Ada tak membuat bangga tiada tak membuat sengsara. Seperti hal seorang tukang parkir. Ya tukang parkir. Ada hal yg menarik utk diperhatikan sebagai perumpamaan dari tukang parkir. Mengapa mereka tak menjadi sombong padahal begitu banyak dan beraneka ragam jenis mobil yg ada di pelataran parkirnya? Bahkan walaupun berganti-ganti tiap saat dgn yg lbh bagus ataupun dgn yg lbh sederhana sekalipun tak mempengaruhi kepribadiannya!? Dia senantiasa bersikap biasa-biasa saja.
Luar biasa tukang parkir ini. Jarang ada tukang parkir yg petantang petenteng memamerkan mobil-mobil yg ada di lahan parkirnya. Lain waktu ketika mobil-mobil itu satu persatu meninggalkan lahan parkir bahkan sampai kosong ludes sama sekali tak menjadikan ia stress. Kenapa sampai demikian? Tiada lain krn tukang parkir ini tak merasa memiliki melainkan merasa dititipi.
d.Al Sabr
Al Sabr secara etimologi berarti tabah hati. Dalam Mu’jam Maqayis Al Lughah disebutkan bahwa kata sabar memiliki tiga arti yaitu menahan, sesuatu yang paling tinggi dan jenis bebatuan. Menurut terminologi adalah menahan jiwa dari segala apa tidak disukai baik itu berupa kesenangan dan larangan untuk mendapatkan ridha Allah. Dalam perspektif tasawuf Al sabr berarti menjaga menjaga adab pada musibah yang menimpanya, selalu tabah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya serta tabah menghadapi segala peristiwa. Sabar merupakan kunci sukses orang beriman. Sabar itu seperdua dari iman karena iman terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi syukur baik itu ketika bahagia maupun dalam keadaan susah. Makna Al Sabr menurut ahli sufi pada dasarnya sama yaitu sikap menahan diri terhadap apa yang menimpanya.
Ibn ‘Ata’illah membagi sabar menjadi 3 macam sabar terhadap perkara haram, sabar terhadap kewajiban, dan sabar terhadap segala perencanaan (angan-angan) dan usaha.
Sabar terhadap perkara haram adalah sabar terhadap hak-hak manusia. Sabar terhadap kewajiban adalah sabar terhadap kewajiban dan keharusan untuk menyembah kepada Allah. Segala sesuatu yang menjadi kewajiban ibadah kepada Allah akan melahirkan bentuk sabar yang ketiga yaitu sabar yang menuntut salik untuk meninggalkan segala bentuk angan-angan kepada-Nya.
Sabar bukanlah suatu maqam yang diperoleh melalui usaha manusia sendiri. Namun, sabar adalah suatu anugerah yang diberikan Allah kepada salik dan orang-orang yang dipilih-Nya. Maqam sabar itu dilandasi oleh keimanan yang sempurna terhadap kepastian dan ketentuan Allah, serta menanggalkan segala bentuk perencanaan (angan-angan) dan usaha.
artinya:
“ bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.” (QS. An Nahl : 127)
Untuk lebih jelasnya berikut diketengahkan contoh Shabr
1)Sabar dalam menghadapi sesuatu yang menyakitkan; musibah,
bencana, atau kesusahan.
Adapun contohnya apa yang terjadi pada nabi Ayyub, beliau ditinggalkan
oleh istri dan anak-anaknya tercinta meninggal dunia, kemudian ditambah
lagi dengan harta bendanya yang melimpah habis karena tertimpa bencana.
2)Sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat.
Adapun contohnya, sebagaimana yang terjadi pada nabi Yusuf, Allah
SWT menguji kesabaran Yusuf dengan ujian yang lebih berat, yaitu rayuan
Siti Zulaikha, seorang wanita cantik lagi terpandang. Namun, dengan
kesabaran dan keteguhan iman, Nabi Yusuf pun mampu melewati ujian ini
dengan selamat. Padahal, saat itu Yusuf pun menyukai Zulaikha, dan suasana
pun sangat mendukung untuk melakukan maksiat.
3)Sabar dalam menjalankan ketaatan.
Sedangkan contoh yang ketiga adalah kesabaran yang di miliki oleh nabi
Ibrahim dan anaknya Ismail, beliau berdua dengan tetap sabar dan taat atas
perintah Allah, meskipun saat itu sang ayah akan menyembelih anaknya
sendiri. Inilah bukti kesabaran dalam menjalani ketaatan atas
perintah-Nya.
e.Syukur
Syukur secara terminology berasal dari kata bahasa Arab, syakara yang berarti membuka segala nikmat, yakni gambaran dalam benak tetang nikmat dan menampakkannya ke permukaan. Syukur berarti rasa terima kasih atas nikmat yang telah diberikan, sembari menggunakan nikmat tersebut di jalan yang diridhai Allah SWT. Syukur tersusun dari ilmu, hal, dan amal perbuatan. Ilmu berarti mengetahui nikmat yang diberikan dan pemberi nikmat. Hal berarti gembira atas nikmat yang telah diberikan.
Sedangkan amal perbuatan adalah melaksanakan apa yang menjadi tujuan pemberi nikmat. Al Junayd mengatakan, Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat.
Banyak di antara kita bersyukur hanya dalam ilmu dan hal saja, belum memasuki penggunaan nikmat itu untuk mencari keridhaan-Nya. Seseorang bertanya kepada Abu Hazim, “Bagaimanakah syukur mata?” Ia menjawab, “Jika mendengar yang baik diterima, dan sebaliknya.” Kemudian seorang itu bertanya lagi “Bagaimanakah syukur kedua tangan?” Ia menjawab, “Jika orang meninggal baik dan perlu ditiru, maka langkahkanlah kaki Anda.”
Syukur dalam pandangan Ibn ‘Ata’illah terbagi menjadi 3 macam; pertama shukur dengan lisan, yaitu mengungkapkan secara lisan, menceritakan nikmat yang didapat. Kedua, shukur dengan anggota tubuh, yaitu shukur yang diimplementasikan dalam bentuk ketaatan. Ketiga, shukur dengan hati, yaitu dengan mengakui bahwa hanya Allah Sang Pemberi Nikmat, segala bentuk kenikmatan yang diperoleh dari manusia semata-mata dari-Nya.
Lebih lanjut Ibn ‘Ata’illah menambahkan hendaknya seorang salik selalu bershukur kepada Allah sehingga ketika Allah memberinya suatu kenikmatan, maka dia tidak terlena dengan kenikmatan tersebut dan menjadikan-Nya lupa kepada Sang Pemberi Nikmat. Manfaat dari syukur adalah menjadikan anugerah kenikmatan yang didapat menjadi langgeng, dan semakin bertambah.
Pengejawantahan syukur tetap harus dilandasi dengan menanggalkan segala bentuk angan-angan dan keinginan. Akal adalah kenikmatan paling agung yang diberikan Allah kepada manusia. Karena akal inilah manusia menjadi berbeda dari sekalian makhluk. Namun, dengan kelebihan akal ini pula manusia memiliki potensi untuk bermaksiat kepada Allah. Dengan akal ini manusia dapat berpikir, berangan-angan, dan berkehendak. Sehingga manusia memiliki potensi untuk mengangan-angankan dan menginginkan suatu bentuk kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah. Hal inilah yang harus ditiadakan dalam pengejawantahan syukur.
artinya:
“ dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(QS. Ibrahim : 7)
Untuk lebih jelasnya berikut diketengahkan contoh Syukr
Syukur pada hati; maksudnya adalah kita meyakini, menyadari, mengetahui
bahwa segala nikmat itu bersumber dan bermuara dari Allah SWT.
Adapun syukur dengan lisan adalah penilaian hati, getaran hati yang
menjalar kepada anggota badan melalui mulutnya yang senantiasa basah,
memuji nikmat-Nya dan menyebut nama Allah berupa wirid dan dzikir seperti
tahmid, takbir, tasbih dan bentuk puji-pujian yang lain terhadap Allah.
Termasuk dalam katagori syukur pada lisan ini ialah seorang yang sentiasa
memuji-muji nikmat Allah di hadapan manusia lainya, mengajak manusia
untuk sama-sama bersyukur dan mendohirkan kesyukuran itu melalui ibadat
dan majlis-majlis ilmu yang bertujuan untuk mengajak manusia supaya taat
dan patuh kepada Allah Ta’ala.
Selanjutnya yang termasuk dengan bersyukur pada seluruh anggota adalah
kita telah menyadari bahwa seluruh anggota badan, jiwa dan raga milik
Allah semata. Kemudian kita menggunakan dan memakainya untuk hal-hal
kebaikan juga. Dari mulai mata, telinga, tangan, kaki, mulut dan
sebagainya itu semua milik Allah dan kita harus menggunakannya untuk
keridhoan Allah juga.
Itulah tadi bentuk-bentuk kesyukuran, maka hendaknya kita untuk senantiasa
bersyukur kepada Allah yakni dengan terus memuji, baik itu dengan hati,
lisan ataupun anggota badan. Maka syukur nikmat bisa berarti bahwa kita
sentiasa ingat, sadar, memahami, mengerti, mengucapkan, melaksanakan dan
senantiasa memandang kepada Yang Memberi Nikmat yaitu Allah SWT. Dan
barang siapa yang mensyukuri nikmat-Nya, maka Allah pun akan membalasnya.
f.Tawakkal
Tawakkal bermakna berserah diri. Tawakkal dalam tasawuf dijadikan washilah untuk memalingkan dan menyucikan hati manusia agar tidak terikat dan tidak ingin dan memikirkan keduniaan serta apa saja selain Allah. Pada dasarnya makna atau konsep tawakkal dalam dunia tasawuf berbeda dengan konsep agama. Tawakkal menurut para sufi bersifat fatalis/majbur yakni menggantungkan segala sesuatu pada takdir dan kehendak Allah. Syekh Abdul Qadir Jailany menyebut dalam kitabnya bahwa semua yang menjadi ketentuan Tuhan sempurna adanya, sungguh tidak berakhlak seorang jika ia meminta lebih dari yang telah ditentukan Allah.
artinya:
“… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At Thalaaq : 2-3)
artinya:
“ Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS. At Taubah : 51)
Untuk lebih jelasnya berikut diketengahkan contoh Tawakkal
Tawakkal merupakan bekal hidup orang beriman yang bisa menjadikan dirinya tabah dalam menghadapi apapun bentuk cobaan atau musibah yang menimpanya. Dengan sikap tawakkal seorang mukmin akan merasa tenang dalam hidupnya. Bila ia mendapatkan kebaikan ia sadar bahwa Allah-lah yang memberinya utk itu ia bersyukur. Bila ditimpa kesulitan atau mengalami musibah ia sadar bahwa itu datang dari Allah sebagai batu ujian dan ia yakin bahwa dibalik kesulitan dan musibah itu pasti ada hikmah dan kemaslahatan yang dikehendaki oleh-Nya. Untuk itu ia akan bersabar dan bertawakal. sikap tawakkal ini dapat menanamkan pengaruh dan efek yang positif baik dalam pribadi maupun pihak lain
Tawakkal itu bukan sikap menyerah atau pasrah atau bersikap masa bodoh atau berpangku tangan tanpa berusaha dan bekerja dgn keras. Tawakkal adalah usaha maksimal seorang mukmin sambil yakin akan adanya pertolongan Allah. Nabi bersabda ; “Jika kamu bertawakkal kepada Allah dgn sepenuh tawakkal maka Dia pasti akan memberimu rizki sebagaimana Dia memberi rizki kepada seekor burung ia pergi meninggalkan sarangnya dalam keadaan kosong dan pulang kembali kesarangnya dalam keadaan penuh temboloknya ” .
Seseorang hebat, sebenarnya karena Allah topang, sehingga terlihat hebat. Seseorang dapat menjadi direktur, karena Allah buat loyalitas pada karyawan dan seluruh bawahannya. Seorang wanita terlihat hebat dan berkuasa atas suaminya, karena Allah berikan rasa cinta pada suaminya, sehingga suaminya tunduk padanya. Seseorang memiliki uang banyak di bank, karena Allah jaga agar dia ingat dengan semua kekayaannya itu. Jika Allah cabut semua topangan, maka semua hilang begitu saja, dalam sekejap. Selesai. Menjadi pedagang banyak kebaikan, karena dengan berdagang, seseorang berada dalam kondisi riskan, bisa untung bisa rugi, sehingga senantiasa memohon bantuan Allah.
g.Ridha
Ridha berarti sebuah sikap menerima dengan lapang dada dan senang terhadap apapun keputusan Allah kepada seorang hamba, meskipun hal tersebut menyenangkan atau tidak. Sikap ridha merupakan buah dari kesungguhan seseorang dalam menahan hawa nafsunya.
Imam Gazali mengatakan bahwa hakikat ridha adalah tatkala hati senantiasa dalam keadaan sibuk mengingatnya. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa seluruh aktivitas kehidupan manusia hendaknya selalu berada dalam kerangka mencari keridhaan Allah.
Ridha menurut Abu Nashr Al Sarraj merupakan sesuatu yang agung dan istimewa, maksudnya bahwa siapa yang mendapat kehormatan dengan ridha berarti ia telah disambut dengan sambutan paling sempurna dan dihormati dengan penghormatan tertinggi. Dalam kitabnya al-Luma’, Abu Nashr Al Sarraj mengemukakan bahwa maqam ridha adalah maqam terakhir dari seluruh rangkaian maqamat.
Jika maqam ridha sudah ada dalam diri sālik, maka sudah pasti maqam tawakkal juga akan terwujud. Oleh karena itu, ada hubungan yang erat antara maqam ridha dan maqam tawakkal. Orang yang ridha terhadap ketentuan dan kepastian Allah, dia akan menjadikan Allah sebagai penuntun dalam segala urusannya, dia akan berpegang teguh kepada-Nya, dan yakin bahwa Dia akan menentukan yang terbaik bagi dirinya.
artinya:
“ Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapNya. Itulah keberuntungan yang paling besar".(QS. Al Maaidah : 119)
Untuk lebih jelasnya berikut diketengahkan contoh Ridla
Segala sesuatu yang menimpa kita adalah kehendak-Nya. Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha dan bertawakal kepada-Nya. Kita selayaknya senantiasa bersikap ridha kepada qadha dan qadarn-Nya walaupun terkadang pahit dan menyakitkan. Sikap ridha adalah cerminan kepatuhan hamba kepada Penciptanya. Apapun bentuk pemberian-Nya merupakan yang terbaik untuk kita.
Syeh Abdul Qadir Jailani dalam “Futuhul Ghaib” mengatakan :”Jika sesuatu itu tidak ditakdirkan untuk kamu, maka janganlah kamu merasa kesal. Ridhalah dengan takdir Allah dan dalam keadaan ini berharaplah mendapatkan keridhaan dan karunia-Nya”.
Dari perkataan beliau, kita bisa menyimpulkan bahwa hendaknya kita memposisikan “ridha terhadap-Nya” sebelum mengharap “ridha-Nya”. Untuk sampai kepada “ridha terhadap-Nya”, kita harus menyelaraskan terlebih dahulu keinginan kita dengan kehendak-Nya, yaitu dengan menjadikan kehendak-Nya sebagai patokan dan pijakan untuk segala aktifitas menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dalam hidup dan kehidupan.


DOWNLOAD

2 komentar:

  1. Apakah istilah-istilah dalam tasawuf hanya ini saja?

    BalasHapus
  2. Sdr Fatihul Ihsan,
    Mohon izin untuk salin dan gunakan.
    Terima kasih.

    BalasHapus